Asal Mula Kemaliq Lingsar (Cerpen)
MIMPI YANG BERSEJARAH
Karya : Diya’ul Hidayati Murtadho
Angin berhembus kencang, panas dari terik matahari serasa membakar
kulit. Satu kata yang terlintas dalam benakku saatu itu heran, mengapa aku tiba-tiba berada di sebuah kaki bukit yang sangat
gersang dan tandus, nampaknya tidak ada
tanda tanda kehidupan disana, hanya ada
satu pohon yang berdiri tegak. Aku melangkahkan kakiku perlahan menuju kearah
pohon itu belum saja langkahku sampai di tujuan , aku dikejutkan dengan seekor
serigala yang berdiri tegak layaknya armada tempur yang melihat musuhnya.Tanpa
berpikir panjang, aku berbalik arah dan berlari sekencang mungkin menghindari
serigala yang ikut berlari mengejarku.Aku bertiak ketakutan meminta
pertolongan.
“Tolong……!!!
“Tolong……!!!
“Tolong……!!!
Akan
tetapi hasilnya nihil, “ mana mungkin ada orang di tempat yang setandus ini”
Gumamku dalam hati. Aku terus berlari
layaknya motor balap yang tiada garis
finishnya. Seketika aku mendengar suara memanggil namuku.
“Ayu…..”
“Ayu….”
“Ayu
Dewi Anjani…..”.Tak lama kemudian aku berhenti, berusaha mengontrol kembali
nafasku. Kuletakkan kedua tangan dilututku, kemudian secara perlahan aku menoleh kebelakang
ternyata serigala yang tadi mengejarku telah menghilang bak di telan bumi,
berganti dengan suara yang terus-menerus memanggil namaku dari berbagai arah disertai
dengan bunyi lonceng yang sangat keras.Tiba-tiba langit berubah mendenung, air
yang sangat deras mengguyur tubuhku. Aku pun berteriak dengan sangat kencang “Aaaaaaaaaaaaaa”
***
“Ayu
…..Bangun”
“Ayu
Dewi…….”. Aku tersentak bangun mendengar suara Mama yang berteriak di dekat
telingaku, dengan terheran aku melihat Mama telah berdiri di dekat ranjang
tidurku dengan membawa gayung di tangan kananya.
“Akhirnya
kamu bangun juga” ujar Mamaku dengan raut wajah kesal.
“Mama
kenapa?” jawabku heran, sembari melihat baju yang kukenakan basah kuyup.
“Kamu
tidak dengar, dari tadi jam wekermu berbunyi!”. Dengan menghela nafas , mama memberiku
jam weker yang masih berbunyi.
Aku bergegas berdiri dari tempat tidurku dan berlari ke kamar
mandi, ketika melihat jam wekerku menunjukkan pukul 08:30. Mama menggelengkan
kepala, dengan tangan dipinggang, ketika melihat tingkah lakuku yang sangat
semronoh.
***
Aku memarkirkan motorku di tempat parkir. Pukul 09:00 ini, aku ada
janji dengan teman kampusku untuk pergi observasi ke Desa Lingsar Kecamatan
Narmada. Tanganku langsung meraih benda yang berbentuk persegi panjang yang ada
di dalam tas ransel yang kukenakan. Pukul 09:20, dengan menghela napas panjang,
aku melihat ke sekelilingku, dengan bibir tersenyum lebar melihat teman-temanku
yang duduk sekitar 10 m dari tempat parkir, seraya aku berlari kecil menghampiri mereka.
“Haiii……”.Sapaku.
“Telat
20 menit”.Jawab salah satu temanku dengan raut wajah yang kesal.Akupun tersipu
malu kemudian menghampirinya dan meminta maaf.
Setelah berbincang sekitar
10 menit, aku dan ketiga temanku berjalan memasuki lokasi observasi kami. Objek
observasi kami kali ini yaitu Kemaliq Lingsar atau biasa dikenal dengan Pura
Lingsar. Pura Lingsar dan Kemaliq Lingsar merupakan dua bangunan yang sangat
berbeda.Akan tetapi, lokasi bangunannya berdampingan, yang dimana terdapat 17
anak tangga yang menghubungkan kedua bangunan ini. Sesampai di sana, kami menemui
Pak Fajar yang merupakan pemandu wisata di Kemaliq Lingsar. Kami menjelaskan
maksud dan tujuan kami datang kesini. Pak Fajar lalu mengarahkan kami kesebuah
berugaq (tempat duduk ) dekat pohon besar yang ada di sebelah barat . Disana
Pak Fajar menjelaskan mengenai fungsi dan sejarah Kemaliq Lingsar, yang
diakhiri dengan mengajak kami berkeliling kedua bangunan tersebut.
“Untuk
lebih jelasnya, mari saya ajak kalian berkeliling”.Ajak Pak fajar.
Aku
yang bersemangat dan tidak sabaran ingin berkeliling, spontan berdiri dan
bergegas mengikuti Pak fajar. Akan tetapi sesuatu yang tidak diinginkan
terjadi, kakiku tersandung akar pohon besar yang ada di dekat berugaq itu, yang
mengakibatkan tubuhku kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.
Praaaaaaaaaaakkkkk
***
“Tringggg……”
“Tringggg….”.
“Rasakan
ini”.Teriak seseorang denagn mengayunkan pedang ke arah serigala hitam yang ada
di depannya.
Aku terbangun mendengar suara orang yang sedang berkelahi.Dengan
kepala yang masih pusing akibat terjatuh, dan penglihatan yang masih buram, aku
melihat dua orang berdiri tegak melawan serigala hitam yang sangat menakutkan.Satu
diantaranya bertubuh tinggi, kekar dan berpakaiaan layaknya prajurit
kerajaan.Satunya lagi bertubuh tinggi, sedang (tidak besar dan tidak kecil),
berpakaiaan serba putih, memakai sorban dikepala, serta membawa tongkat
ditangan kirinya dan tasbih di tangan kanannya.Mereka berdua berhasil
mengalahkan serigala buas yang hendak mencelakakan nyawa mereka.
“Akhirnya
pergi juga”. Ujar laki-laki yag bertubuh tinggi kekar dengan raut wajah yang
lega.
“Alhamdulillah”.
Balas laki-laki yang menggunakan sorban, diserai dengan senyum yang sangat
lebar.
Dengan
nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.Aku berusaha bangun dari tempatku, dalam
hati aku bertanya. “Dimana aku sekarang?, dimana teman-temanku?.Apakah sekarang
aku sudah mati???”
Aku memperhatikan sekelilingku yang hanya ada semak-semak saja,
dalam hati aku berguman sendiri.rasanya aku mengenal tempat ini, aku pernah
mengunjungi tempat ini, tempat yang gersang dan tandus. Aku berusaha
mengingat-ingat kembali, akan tetapi tak berhasil.Pandanganku beralaih ke dua
laki-laki yang berhasil melawan serigala buas yang sangat menakutkan tadi.Jarak
mereka tidak jauh dari tempat sekarang aku berdiri. Aku berteriak memanggil
kedua orang itu, akan tetapi mereka tidak mendengarnya. Karena tidak ada yang
merespon, aku memutuskan untuk menghampiri mereka yang sedang
berbincang-bincang.Alangkah terkejutnya aku ketika tanganku tidak bisa
menyentuh mereka. Aku mencoba mengajak mereka berbicara akan tetapi tidak
berhasil juga, bahkan benda benda yang ada di sekelilingku tak bisa ku sentuh.
***
Siang telah pergi, sorepun datang dengan membawa cahaya orangenya.
Aku yang masih kebingungan dan tak tau arah tujuan, akhirnya memilih mengikuti
kedua orang itu yang belakangan ini sudah ku ketahui nama dari orang yang
berpakaian serba putih adalah Malik, biasa di panggil Guru Malik oleh orang
yang berpakaian seperti prajurit yang merupakan murid dari Malik yang bernama
Rouf. Aku tidak mengetaui dari mana aku mengetahui nama-nama itu,tanpa kusadari
nama-nama itu melintas di pikiranku. Di tengah perjalanan Rauf memberitahu
gurunya bahwa perbekalan air mereka hampir menipis. Rauf merasa khawatir, mengingat
sejauh ini tidak ada satupun mata air yang mereka temukan sepanjang perjalanan.Malik
tersenyum kearah Rauf. Sembari memegang bahu muridnya, Malik mengingatkan Rauf untuk selalu bersabar, dan
yakin semaunya pasti akan baik-baik saja.Mendengar jawaban dari gurunya, Rauf
hanya bisa menganguk pasrah. Dari kejauhan mereka melihat sebuah pohon yang
lumayan besar di kaki bukit, mereka pergi kearah pohon itu, dan memutuskan
untuk bermalam di bawah pohon itu.
***
Setelah melaksanakan shalat Isya, Malik menyuruh Rauf untuk
beristirahat.Dia memberitahu Rauf bahwa malam ini ia ingin melakukan semedi,
dia juga berpesan untuk tidak diganggu sampai ia selesai bersemedi, yang dijawab Rauf dengan anggukan. Aku, memilih
mengikuti Rauf yang sedang bersiap-siap untuk istirahat.Aku merasa letih, ditambah
lagi kepalaku masih terasa sedikit pusing.
Sebelum memejamkan mata, aku melihat kearah langit. Malam ini begitu terang, hampir tidak ada
bintang yang bertaburan.Di ufuk timur terpampang dengan jelas bulan yang begitu
bulat seperti bola basket .Dapat diperkirakan bahwa malam ini merupakan malam
purnama.
***
Pagi menjelang siang aku
terbangun dari tidurku. Badanku tersa lebih segar setelah tidur semalaman. Aku
melihat Malik masih dengan semedinya, mulut yang tak bernhenti bergerak, dan
tasbih di tangan kananya yang terus menerus berputar di gerakkan oleh
jemarinya. Pandanganku beralih kearah Rauf, disana dia terlihat begitu pucat.Mungkin
dikarenakan dari semalam dia belum menyentuh makanan sedikitpun.Perbekalan yang
mereka bawa tersisa sedikit yang hanya cukup untuk satu orang saja. Rauf rela
tidak makan demi gurunya bisa makan, dia lebih memilih bersabar dan diam
sembari bersender di bawah pohon, menahan rasa lapar dan hausnya menunggu sang gurunya selesai bersemedi.
Setelah beberapa jam, matahari yang tadinya di atas kepala, kini
telah berpindah tempat kearah barat. Bunga-bunga dari pohon tempat kami singgah
berguguran.Malik berdiri dari tempatnya, menandakan bahwa semedinya telah
selesai.Tanpa ada sepatah kata, dengan membawa tongkatnya Malik berjalan kearah
utara pohon itu.Melihat hal tersebut, Rauf merasa heran dan memanggil gurunya.
“Guruuuuuu”
“Guru
hendak kemana?”teriak Rauf dengan lantang, tetapi Malik menghiraukannya.
Tak
lama kemudian Malik berhenti. Dia berhenti sekitar 5 m dari pohon itu. Sembari berdoa Malik
mengangkat tongkatnya ke atas dan menanncapkanya ke tanah. Jarak beberapa detik
Malik mencabut tongkatnya kembali. Tanpa diduga dari lobang itu, keluar yang
begitu deras.Melihat hal tersebut Rauf begitu senang dan kegirangan.Bersamaan
dengan itu, kepalaku terasa begitu
sakit. Seperti terdapat berjuta ton beban yang menindih kepalaku.Ingatanku
tentang tempat ini akhirnya muncul begitu saja.Tempat ini merupakan tempatyang
sama persis dangan tempat yang ada di dalam mimpiku. Begitu pula ingatanku
tentang Malik, dan Rauf.Suara seseorang terngiang-ngiang di otakku.Disana dia
menjelaskan siapa sebenarnya Malik dan Rauf.
“K.H. Abul Malik merupakan salah seorang penyiar agama di pulau
Lombok.Daerah tempat berdirinya Kemaliq Lingsar
saat ini, dahulu merupakan tempat yang tandus dan gersang. Akan tetapi,
setelah kedatangan K.H. Abdul Malik dan dua saudaranya yaitu K.H. Rauf dan H.J.
Ayu Dewi Anjani, keadaan daerah itu berubah menjadi daerah yang subur dan
makmur. Konon ceritanya, pada malam purnama K.H. Abdul malik berkhalwat
beribadak kepada Allah) semalam suntuk beliau bangun dari tempat Khalwatnya
keesokan harinya menjelang Asar. Beliau berjalan kearah kaki bukit dengan
memegang sebuah tongkat dan berhenti di bawah pohon waru yang hidup sebatang
kara. Disana beliau berdoa lalu
menancapkan tongkatnya ke dalam tanah. Tongkat itu lalu dicabutnya, dari tanah
itu keluar air yang sangat deras”. Cerita Pak Fajar
Suara
itu terus menerus berdengung di telingaku, suara Pak Fajar yang bercerita tentang
kemaliq Lingsar terus saja menghantuiku.Semakin lama kepalaku semakin sakit,
aku teriak sekencang mungkin, menjerit kesakitan. Tak lama kemudian tubuhku
terjatuh dan akhirnya…..
***
Aku terbangun dan mendapati diriku berada disebuah puskesmas dengan
dikelilingi Mama dan teman temanku. Mama memberitahuku bahwa, aku tadi terjatuh
karena kesandung akar pohon ketika hendak mengikuti Pak Fajar yang hendak
mengajak berkeliling. Akan tetapi tidak jadi karena Pak Fajar dan teman-temanku
sibuk mengurusku yang pingsan. Mendengar cerita dari Mama, aku bertanya-tanya
dalam hati apakah semua yang barusan terjadi hanyalah mimpi……
Mantap, ditunggu cerita selanjutnya
BalasHapusTrima kasih sobat, komen pertamanya
HapusWaaah kerennnnn. Kembangkan tulisannya💪
BalasHapusTrima kasih
HapusKerenn.. kembangkan👍
BalasHapus🤩🤩
HapusWah bagus banget, lanjutkan Thor karyanya 👍
BalasHapusMantep kembangkan trus
BalasHapusTerus berkarya diya
BalasHapusBagus sekali cerpennya diya'
BalasHapusSemangat terus yaa
Makasih beb.. kamu juga semangat terus ya
HapusBagus banget . Terus semangat yahh
BalasHapusKembangkann... Berkarya teros. Ingat mau buat antologi. Hehe.
BalasHapusMakasih beb.. insyaallah masih ingat .heheh
HapusKembangkan terus Min.✊
BalasHapusMantap 👍
BalasHapussemangat nulis
BalasHapusMantaapp... 👍👍
BalasHapusKerennn (~^,^)~ Good Job !
BalasHapusTulisannya bagus diya. Semangat terus ya nulisnya
BalasHapusWaah kereen cerpennya😍
BalasHapusSemangat terus diyak
cerpennya keren deh. menginspirasi. Semangat terus yaa berkarya :D
BalasHapusMakasih
HapusMasyallahhhh keren bgttt🥰
BalasHapusTerima kasih
HapusGood job
BalasHapusMaa syaa Allah gak ngebosenin banget,, gak main2 sii keren banget
BalasHapusKerennnn banget 👏🏻👏🏻
BalasHapus